“Tulisanmu, Harimaumu”

Menulis adalah bagian dari mengekspresikan diri. Menulis bisa jadi juga sebagai upaya untuk menyatakan pendapat dalam bentuk tulisan. Di masa kini, menyatakan pendapat tidak melulu harus melalui ruang-ruang publik secara fisik, tetapi bisa dilakukan melalui media sosial. Banyak wadah yang bisa dipakai untuk ruang ekspresi itu, salah satunya Blog, Twitter, Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya. Menulis di media sosial sangat menarik karena bisa dibaca oleh orang lain. Tidak menutup kemungkinan, tulisan mampu mengubah cara pandang seseorang atau sekelompok orang. Oleh karena itu, kita harus mampu menulis dengan bijak dan menghindari tulisan yang tidak terkonfirmasi sehingga cenderung hoax.

Alih-alih mengabarkan sesuatu di media sosial, kita bisa terkena pasal UU ITE terbaru. Apalagi, pihak Kepolisian RI saat ini sedang gencar-gencarnya mengawasi akun orang-orang tertentu, terutama atas beredarnya ujaran kebencian dan informasi bohong di media sosial. Situasi politik saat ini – yang berhubungan dengan Pilkada di sejumlah daerah, terutama Pilkada DKI; dianggap sebagai pemicu perilaku tersebut.

Dalam menindak pelaku-pelaku tersebut, pihak Kepolisian RI mendasarkan tindakannya pada Surat Edaran No: SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech). Surat Edaran yang dibuat pada tahun 2015 ini merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana; Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia; Undang-Undang No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisan Negara Republik Indonesia; Undang-Undang No 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi International Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya; Undang-Undang No 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi International Hak-Hak Sipil dan Politik; Undang-Undang No 8 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik; Undang-Undang No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis; dan Undang-Undang No 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial.

Sudah banyak kasus yang saat ini sedang ditangani oleh pihak Kepolisian RI terkait ujaran kebencian dan berita bohong ini. Beberapa di antaranya adalah kasus Habib Rizieg, Ahmad Dani, dan Buni Yani. Menyikapi beberapa kasus di atas, saya jadi ingat satu pepatah di Indonesia, yaitu “Mulutmu, Harimaumu”. Jika kita kaitkan dengan media sosial dan penggunaannya saat ini, kita bisa ubah peribahasa itu menjadi “Tulisanmu, Harimaumu”. Di masa sekarang ini, kita memang harus berhati-hati dalam menulis dan menggunakan media sosial kita. Gunakanlah kemajuan teknologi digital ini untuk menuliskan nilai baik dan praktik baik kita. Ayo, bijak dalam menggunakan media sosial!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s