Selamat Tinggal, Sampo Komersial!

Sudah sejak awal 2015 saya berhenti menggunakan sampo komersial. Sampo yang saya maksud adalah sampo pada umumnya yang dibuat oleh pabrik. Gara-garanya saya mengikuti kegiatan workshop penulisan perjalanan di Watukodok Gunung Kidul, bulan Februari 2015 lalu. Di tempat itu, saya menemukan banyak hal menarik yang mengubah cara pandang dan akhirnya juga mengubah perilaku saya. Bisa jadi, melalui kegiatan itulah, saya bertransformasi menjadi diri saya sekarang ini. Saya ingat, dalam sebuah sesi, salah satu peserta membagi pandangannya kepada saya. Ia bercerita, sudah beberapa saat ia meninggalkan sampo komersial dan beralih pada ‘sampo’ alami, yaitu air perasan jeruk nipis. Dia sekaligus menceritakan bagaimana langkah-langkah sederhana yang dilakukannya untuk menerapkan sampo tersebut pada aktivitas mencuci rambutnya. Saya tertarik pada ceritanya karena saya merasa sampo-sampo yang selama ini saya pakai untuk keramas, sepertinya semakin membuat rusak rambut saya saja. Rambut saya semakin kering dan semakin susah diatur. Rontoknya semakin banyak dan saya merasa semakin bersalah pada rambut saya.

IMG_8698

Sepulang dari kegiatan tersebut, saya rajin mencari tahu di internet tentang ‘sampo’ alami seperti yang diceritakan teman saya. Ternyata saya menemukan banyak informasi yang lebih menarik dari sekedar info tentang sampo alami. Pencarian saya sampai pada kata kunci ‘no poo‘. No adalah tanpa dan poo artinya shampoo. Dalam Bahasa Indonesia, secara umum no poo dapat diartikan sebagai tanpa sampo, yaitu aktivitas mencuci rambut tanpa menggunakan sampo komersial atau sampo buatan pabrik dengan berbagai merek yang telah kita kenal, misalnya Pant*ne, Tr*semme, D*ve, He*d and Sh**lder, dll. Jadi berkeramas hanya dengan menggunakan bahan-bahan alami atau bahan-bahan di luar produk sampo pabrikan.

Banyak artikel-artikel terkait yang membuka pemahaman saya akan hal-hal baru yang tak saya ketahui selama ini. Ketika saya mencari lebih dalam, pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak sekedar mencari tahu dan sadar, tetapi berbuat. Seminggu setelah melakukan riset dokumen dan literatur dari internet dan bacaan, saya mulai mempensiunkan sampo komersial saya dari tugasnya. Saya melakukan no poo atas kehendak saya sendiri tanpa keraguan. Dalam beberapa waktu, saya mencoba berbagai macam bahan alami untuk mencuci rambut saya. Dengan sadar saya mendasarkan aktivitas mencuci rambut saya dari artikel-artikel yang saya temukan di internet. Memang lebih banyak artikel berbahasa Inggris daripada artikel berbahasa Indonesia. Saya tidak tahu kenapa sangat sedikit orang Indonesia yang menuliskan pengalaman no poo-nya. Beberapa yang saya temukan, tidak serinci tulisan-tulisan no pooers dari luar negeri.

Oke, jadi saya mulai keramas tanpa sampo komersial karena dua hal. Keputusan pertama karena alasan kesehatan, yang kedua karena alasan lingkungan. Alasan kesehatan datang karena ternyata sampo-sampo komersial tersebut banyak mengandung racun. Beberapa studi menyatakan, racun berperan pada munculnya beberapa penyakit dewasa ini, misalnya kanker, menurunnya kekebalan tubuh, dan cacat lahir. Racun tersebut terdapat pada zat-zat kimia yang mungkin terdapat dalam botol sampo kita. Berikut informasi yang saya kutip dari blog Kompasiana: 1) Sodium Laureth Sulfate (SLS) /Sodium Lauryl Sulfate (SLES), ini biasa digunakan untuk deterjen cuci. 2) Diethanolamine (DEA atau DEOA) adalah bahan umum yang biasa digunakan dalam sampo untuk menimbulkan busa. Bahan ini dapat membentuk karsinogen bersama dengan bahan kimia dalam sampo. Zat-zat karsinogen dapat menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-sel tubuh, dan hal ini mengganggu proses-proses biologis. 3) Parabens; banyak digunakan dalam produk shampo dan kosmetik. Kandungan parabens dalam shampo diketahui mempengaruhi tingkat estrogen, sehingga pada akhirnya menyebabkan ketidakseimbangan dalam tingkat hormon. 4) Formaldehyde; merupakan bahan utama beberapa senyawa kimia dan material industri, seperti tekstil, otomotif, cat, insulation, vaksin, kesehatan, dll. Turunannya seperti quaternium-15, diazolidinyl urea, imidazolidinly urea dan DMDM hydantoin digunakan dalam industri kosmetik, antara lain digunakan sebagai pengeras kuku dan juga pelurus rambut. Penggunaannya yang paling dikenal luas adalah sebagai bahan antiseptik dan biasa juga digunakan untuk pembalseman mayat. Formaldehyde adalah racun bagi manusia, bersifat alergen, dan karsinogen. 5) Isopropyl alcohol; biasa digunakan sebagai pelarut untuk cat atau untuk proses industri. Dalam industri kosmetik, dipergunakan dalam larutan pewarna rambut dan lotion. Gejala keracunan alkohol isopropil termasuk kemerahan, sakit kepala, pusing, depresi SSP, mual, muntah, anestesi, dan koma. Keracunan dapat terjadi dari konsumsi, penghisapan, atau penyerapan. 6) Propylene glycol; digunakan sebagai pembawa untuk aroma di shampoo, dan juga membantu mempertahankan kelembaban (kondisioner). Namun, bahan kimia dapat menyebabkan iritasi alergi pada beberapa orang, dan juga dapat menyebabkan kulit kepala melepaskan minyak berlebih. Bahan kimia ini bisa dengan mudah menembus kulit dan menyerap protein di dalamnya, dan hasilnya kulit jadi cepat kendur. 7) FD & C Colour pigments; merupakan bahan kimia pewarna buatan dan sintestis. Penggunaannya dapat menyebabkan kulit menjadi sensitif dan menyebabkan iritasi dan masalah saraf. Beberapa warna ini mengandung tar batubara yang bersifat karsinogenik. Menyerap beberapa warna ini juga dapat menyebabkan penurunan tingkat oksigen dalam tubuh.

Itulah beberapa zat kimia yang bisa kita temukan dalam sampo komersial kita. Memang kandungan zat-zat tersebut di atas masih dalam batas wajar, sehingga masih diijinkan oleh BPOM, tetapi apabila digunakan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang, maka bukan tidak mungkin zat-zat kimia tersebut akan memberikan dampak pada tubuh kita. Saya sih tidak mau memberikan zat beracun pada tubuh saya. Mau saya ya hidup sehat. Oleh karena itu, silakan cek dan baca bahan-bahan yang tertera pada botol sampo di kamar mandi kita, apabila menemukan salah satu dari zat tersebut di atas, berarti sampo kita tidak cukup aman untuk digunakan sehari-hari.

Alasan kedua yang juga masuk akal adalah alasan lingkungan. Dengan memakai bahan-bahan alami, saya tidak lagi berkontribusi pada limbah plastik/botol bekas sampo komersil saya. Limbah sampo saya alami, jadi bisa langsung saya buang ke tanah, malah beberapa di antaranya bisa menjadi pupuk, misalnya kulit buah jeruk nipis. Kulit buah matang ditengarai memiliki kandungan NPK yang cukup banyak, sehingga apabila kita letakkan di atas tanah tempat akar pohon buah bertumbuh, maka ia akan menjadi pupuk yang akan membuat pohon cepat berbuah.

Di negara barat, no poo bukan lagi sebuah pemikiran saja, tetapi hadir menjadi sebuah movement (gerakan). Beberapa no pooer menyatakan bahwa sudah seharusnya konsumen jangan lagi mau dibohongi oleh produsen-produsen besar melalui iklan sampo mereka yang menyesatkan. Dengan dalih membersihkan dan menyehatkan rambut, para produsen memberikan sugesti kepada konsumen untuk menggunakan produk mereka yang jelas-jelas tidak sehat dan aman. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa ahli-ahli pemasaran mereka memang luar biasa jenius untuk meyakinkan kita dan memutar balikkan fakta.

Jadi kenapa harus menunggu untuk segera beralih ke sampo alami. Ayo, mulai no poo hari ini dan jadilah bebas dalam menentukan pilihan sehat untuk hidup kita! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s